4 Fakta Unik Tentang Kemayoran yang Tidak Banyak Diketahui Orang!

fakta kemayoran

Jika mendengar nama daerah Kemayoran disebut, biasanya PRJ (Pekan Raya Jakarta) adalah hal yang langsung terbayang di benak. Ajang tahunan yang diadakan di JIEXPO, Kemayoran tersebut memang selalu dibanjiri pengunjung. Namun, selain menjadi tempat pesta rakyat setiap tahunnya, Kemayoran juga menjadi tempat yang menyimpan sejarah menarik.

Kampung para mayor

Pada masa kependudukan Belanda, Kemayoran menjadi tempat tinggal bagi para “mayor”. Sebutan mayor di sini merupakan jabatan atau pangkat yang diberikan pemerintah Belanda kepada orang-orang yang dinilai berjasa kepada kompeni. Para mayor diberi tugas menarik pajak alias upeti dari penduduk setempat setiap bulannya untuk disetor ke kompeni. Karena menjadi daerah hunian favorit bagi para mayor itu, maka daerah ini dikenal dengan nama Kemayoran. Versi lain menyebutkan bahwa Kemayoran pada masa lalu merupakan satu kampung luas yang dikuasai oleh Mayor Isaac de Saint Martin yang berkebangsaan Perancis. Konon, nama daerah Kemayoran berasal dari kebiasaan para penduduk setempat yang memanggil Isaac dengan panggilan “Tuan Mayor”.

Asimilasi perkawinan

Pada masa peperangan VOC dengan Banten dan Mataram di tahun 1600an, didatangkan banyak buruh dari Cina, India, Sumatera dan Indonesia Timur untuk menjadi pekerja dalam pembuatan jalan, parit, dan pangkalan militer. Dengan banyaknya pendatang yang menetap dan menikah dengan penduduk asli Betawi di Kemayoran, terciptalah asimilasi antar etnis dan suku sehingga menjadikan Kemayoran sebagai kampung dengan berbagai macam pencampuran. Keragaman itu semakin bertambah dengan menetapnya para keturunan campuran Indonesia-Belanda di Jl Garuda. Bahkan setelah perang kemerdekaan usai, banyak tentara Belanda yang memutuskan untuk pensiun dan menetap di Kemayoran.

Legenda Macan Kemayoran

Sejak era Belanda, Kemayoran dikenal sebagai daerah asal para jawara Betawi. Salah satu yang terkenal adalah Murtado yang lahir di Kemayoran pada tahun 1869 dan meninggal tepat pada Dirgahayu Indonesia yang ke-14. Seperti halnya anak Betawi pada umumnya, Murtado rajin mengaji dan belajar ilmu agama. Ditambah lagi dengan aktif belajar bela diri silat dan mahir menggunakan senjata toya (tongkat panjang dalam kungfu), ia dikenal dengan julukan Macan Kemayoran.

Salah satu aksi legendarisnya adalah duel dengan Bek Lihun, centeng Belanda yang bertugas menagih upeti ke penduduk setempat. Duel itu dimulai karena Murtado menolong gadis setempat yang digoda Mandor Bacan, anak buahnya Bek Lihun. Bukan tandingan Murtado, Mandor Bacan kalah telak dan pergi menanggung malu. Tidak terima dikalahkan Murtado, Mandor Bacan mengadu ke atasannya. Mendengar laporan dari anak buahnya, Bek Lihun langsung mendatangi Murtado dengan geram. Namun, dalam beberapa jurus saja, Bek Lihun sudah jatuh terjengkang dan lari terbirit-birit sehingga Belanda langsung mengangkat Murtado sebagai tukang tagih menggantikan Bek Lihun. Bukannya disetor ke kompeni, upeti yang terkumpul justru dibagikan Murtado ke penduduk sehingga membuat Belanda jadi kebakaran jenggot.

Bertahun-tahun kemudian, Macan Kemayoran tersebut melakukan duel besar lagi dengan Sabeni, jawara dari Tanah Abang. Duel dengan Murtado adalah syarat utama dalam adat Betawi sebelum Sabeni boleh melamar putrinya. Sukses membuat Macan Kemayoran terhempas dengan jurus kelabang nyeberang membuat Sabeni langsung diterima menjadi menantu.

Bandar udara internasional pertama

Sebelum ada Bandara Soekarno-Hatta di Cengkareng, Kemayoran telah menjadi landas pacu internasional pertama di Indonesia dengan kode KMO. Resmi dibuka pada tanggal 8 Juli 1940, Bandara Kemayoran pernah menjadi tempat menyambut dan mengantar para wakil negara lain yang ikut dalam KAA (Konferensi Asia Afrika) pertama yang berlangsung di Bandung pada tahun 1955.

Hingga tahun 1980an, Kemayoran menjadi bandar udara tersibuk di Indonesia. Bandara Kemayoran diputuskan untuk ditutup dikarenakan terlalu dekatnya jarak dengan Bandara Halim Perdanakusuma yang merupakan basis militer. Terlalu dekat dengan pangkalan udara militer membuat penerbangan sipil di area tersebut menjadi sempit dan tidak aman bagi penerbangan internasional sementara lalu lintas bandara Kemayoran tengah meningkat pesat. Akhirnya Cengkareng dipilih sebagai lokasi untuk bandar udara yang baru. Dengan adanya pembangunan Bandar Udara Internasional Soekarno-Hatta, bandara Kemayoran perlahan mulai ditutup dan penerbangannya dialihkan sementara ke Bandara Halim Perdanakusuma. Akhirnya, bandar udara Kemayoran resmi berhenti beroperasi pada tanggal 31 Maret 1985 pukul 00:00 WIB. Pada saat itu, seluruh penumpang yang sudah boarding di Kemayoran langsung dibawa menggunakan bus menuju Soekarno-Hatta karena seluruh penerbangan dari Kemayoran sudah dipindahkan ke bandar udara tersebut.

Saat ini, Kemayoran memang sudah bukan merupakan bandara ataupun kampung jawara lagi karena tergerus perkembangan zaman. Dua landas pacu yang tersisa masih difungsikan sebagai jalan raya umum dengan nama Jl H. Benyamin Sueb dan Jl Landasan Pacu Timur. Kedua jalan ini diberi pembatas non permanen sehingga bisa difungsikan lagi sebagai landas pacu apabila ada kondisi darurat yang terjadi.

Sejak tahun 2010, Kemayoran telah direncanakan untuk menjadi kota mandiri dan paru-paru kota. Saat ini, di Jakarta terdapat sekitar lima belas persen area hijau dengan tujuh persennya adalah di Kemayoran dikarenakan adanya Lapangan Golf Bandar Kemayoran dan sisa dari struktur bandar udara yang memungkinkan adanya ruang terbuka hijau. Dengan adanya JIEXPO, Kemayoran dinilai bisa menjadi green international business district.

Dari segi properti sendiri, semakin banyak bermunculan bangunan apartemen di Kemayoran dikarenakan daerah ini bisa menyediakan pemandangan lapangan golf yang hijau dan lokasinya yang strategis. Tentu saja harga properti di Kemayoran berada dalam harga yang cukup mahal dan menjadi sasaran investasi yang menarik. Bagi yang tertarik untuk berinvestasi apartemen di Kemayoran, ada beberapa apartemen yang bisa dipilih seperti The Mansion Kemayoran, Mediterania Palace Kemayoran, Springhill Terrace Residence, dan sebagainya.

Sebagai contoh simulasi perhitungan keuntungannya, Apartemen Springhill Terrace Residence dari developer Springhill Groups dijual seharga Rp 1 Milyar untuk unit dengan satu kamar tidur furnished. Rata-rata harga sewa untuk unit 1 kamar tidur furnished di apartemen tersebut adalah Rp 6 juta/bulan. Dengan berpatokan pada harga sewa tersebut, maka diperkirakan pemilik apartemen akan balik modal dalam 13 tahun. Tentu saja itu hanya perhitungan kasarnya belaka. Jika ikut memperhitungkan kenaikan harga properti dan harga sewa apartemen tiap tahunnya, tentu proses balik modal akan semakin cepat lagi dan pemilik bisa segera menuai keuntungan.

Memang diperlukan modal besar jika ingin mencoba melakukan investasi properti di daerah Kemayoran. Namun, dengan lokasi yang strategis dan rencana kota mandiri yang menjanjikan, bisa diprediksi bahwa investasi properti di Kemayoran akan menuai keuntungan besar seperti halnya BSD City yang saat ini telah sukses bertransformasi dari hutan karet menjadi kota satelit Jakarta yang mandiri. Terlebih lagi Kemayoran memiliki keunggulan besar dari green area yang luas dan bisa menjadi penyumbang oksigen besar bagi penduduk yang sudah bosan dicekoki asap kendaraan di kemacetan ibu kota.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *